Rencana untuk melanjutkan studi atau meniti karir di panggung global seringkali membawa calon kandidat pada satu persimpangan krusial: memilih antara tes TOEFL atau IELTS. Keduanya merupakan tes bahasa Inggris terstandarisasi yang diakui dunia, namun kebingungan dalam menentukan pilihan seringkali menjadi hambatan pertama yang harus diatasi. Keputusan ini bukan sekadar memilih tes mana yang lebih mudah, melainkan tentang strategi memilih alat yang paling tepat untuk membuka gerbang tujuan akademis dan profesionalmu di masa depan.
Memilih antara TOEFL dan IELTS bisa terasa seperti memilih antara dua jalan yang sama-sama menjanjikan. Keduanya memiliki reputasi kuat dan diterima oleh ribuan institusi di seluruh dunia. Namun, di balik kesamaan tersebut, terdapat perbedaan mendasar dalam format, konten, sistem penilaian, dan bahkan pengalaman saat mengerjakan tes. Kesalahan dalam memilih tidak hanya berisiko membuang waktu dan biaya, tetapi juga bisa mempengaruhi skormu secara keseluruhan.
Artikel ini akan membantumu menavigasi persimpangan ini, membedah setiap aspek secara mendalam agar kamu bisa membuat keputusan yang paling strategis dan tepat sasaran.
Perbedaan TOEFL vs IELTS
Sebelum melangkah lebih jauh, mari kita pahami dulu perbedaan paling fundamental antara kedua tes ini. Memahami karakteristik unik masing-masing akan memberimu gambaran awal yang jelas tentang tes mana yang mungkin lebih cocok dengan gaya dan kemampuanmu.
TOEFL (Test of English as a Foreign Language), khususnya format TOEFL iBT (Internet-based Test), dikelola oleh Educational Testing Service (ETS), sebuah organisasi asal Amerika Serikat. Oleh karena itu, TOEFL secara historis lebih berorientasi pada aksen dan konteks akademik Amerika. Seluruh tes, mulai dari Reading, Listening, Speaking, hingga Writing, dikerjakan sepenuhnya melalui komputer.
IELTS (International English Language Testing System) merupakan produk kolaborasi antara British Council, IDP: IELTS Australia, dan Cambridge Assessment English. Hal ini membuat IELTS memiliki nuansa yang lebih internasional, terutama dengan dominasi aksen British dan Australia dalam sesi Listening. IELTS menawarkan dua format utama: Paper-based dan Computer-delivered, memberikan fleksibilitas bagi peserta tes.
Berikut adalah tabel ringkasan untuk memudahkanmu melihat perbedaannya secara langsung:
| Fitur | TOEFL iBT | IELTS Academic |
|---|---|---|
| Penyelenggara | Educational Testing Service (ETS) | British Council, IDP, Cambridge |
| Orientasi Bahasa | Dominan Inggris Amerika | Internasional (British, Australia, dll.) |
| Format Pengerjaan | Sepenuhnya berbasis komputer | Kertas atau komputer |
| Sesi Speaking | Berbicara ke mikrofon (direkam) | Wawancara tatap muka dengan penguji |
| Tipe Pertanyaan | Sebagian besar pilihan ganda | Variatif (isian, menjodohkan, dll.) |
| Durasi Tes | Sekitar 2 jam | Sekitar 2 jam 45 menit |
| Konteks | Murni akademik | Akademik dengan sentuhan kehidupan nyata |
Memahami poin-poin ini adalah langkah pertama untuk menjawab pertanyaan, pilih TOEFL atau IELTS?
Bedah Tuntas Setiap Sesi Tes
Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih dalam, kita perlu membedah setiap sesi tes satu per satu. Perbedaan TOEFL dan IELTS yang sesungguhnya terletak pada detail pengerjaan di setiap bagiannya.
Sesi 1: Reading (Membaca)
Meskipun sama-sama menguji kemampuan pemahaman bacaan akademik, pendekatan keduanya sangat berbeda.
Reading TOEFL iBT
- Struktur: Kamu akan diberikan 2 bacaan panjang (sekitar 700 kata per bacaan) yang diambil dari buku teks level universitas.
- Topik: Murni akademik, seperti biologi, sejarah, arkeologi, seni, dan astronomi.
- Tipe Pertanyaan: Hampir seluruhnya berbentuk pilihan ganda. Ada beberapa variasi seperti “masukkan kalimat” atau “klasifikasi informasi”, namun intinya tetap memilih dari opsi yang tersedia.
- Tantangan: Kamu perlu memiliki stamina membaca yang baik di layar komputer dan terbiasa dengan kosakata akademik yang spesifik. Pertanyaannya bersifat kronologis, artinya pertanyaan pertama akan merujuk pada paragraf awal, dan seterusnya.
Reading IELTS Academic
- Struktur: Kamu akan menghadapi 3 bacaan panjang dengan total 2.150-2.750 kata.
- Topik: Diambil dari jurnal, buku, majalah, dan koran. Topiknya bersifat akademik namun seringkali ditujukan untuk audiens non-spesialis.
- Tipe Pertanyaan: Sangat bervariasi! Kamu akan menemukan pilihan ganda, benar/salah/tidak disebutkan (True/False/Not Given), menjodohkan judul dengan paragraf (Matching Headings), melengkapi diagram, dan isian singkat.
- Tantangan: Variasi pertanyaan menuntut fleksibilitas strategi. Kamu tidak bisa hanya mengandalkan satu cara. Manajemen waktu menjadi sangat krusial karena kamu harus beradaptasi dengan berbagai jenis tugas dalam waktu yang terbatas.
Jika kamu lebih nyaman dengan format yang konsisten (pilihan ganda) dan terbiasa membaca teks akademik di layar, TOEFL mungkin lebih cocok. Namun, jika kamu lebih fleksibel dan mampu menangani berbagai jenis instruksi, variasi soal IELTS bisa menjadi keuntungan.
Sesi 2: Listening (Mendengarkan)
Di sini, perbedaan aksen menjadi faktor yang sangat signifikan.
Listening TOEFL iBT
- Struktur: Kamu akan mendengarkan beberapa rekaman, terdiri dari percakapan antar mahasiswa atau antara mahasiswa dan staf kampus, serta potongan kuliah akademik.
- Aksen: Hampir secara eksklusif menggunakan aksen Amerika Utara.
- Proses: Kamu mendengarkan rekaman terlebih dahulu secara penuh, baru setelah itu pertanyaan akan muncul di layar. Ini berarti kamu harus mampu membuat catatan yang efektif sambil mendengarkan.
- Tantangan: Kemampuan untuk fokus, menangkap ide utama, dan mencatat detail penting tanpa melihat pertanyaan terlebih dahulu adalah kunci utama. Jika kamu kehilangan fokus sejenak, bisa jadi kamu akan kesulitan menjawab beberapa pertanyaan berikutnya.
Listening IELTS Academic
- Struktur: Terdiri dari 4 bagian. Dimulai dari percakapan sosial sehari-hari, monolog kontekstual (misalnya pengumuman tur), percakapan akademik, hingga sebuah kuliah akademik.
- Aksen: Sangat beragam, mencakup aksen British, Australia, Selandia Baru, Amerika, dan Kanada.
- Proses: Kamu bisa melihat pertanyaan di lembar soal sebelum dan selama rekaman diputar. Ini memungkinkanmu untuk mengantisipasi informasi apa yang perlu kamu cari.
- Tantangan: Kamu harus terbiasa dengan berbagai aksen bahasa Inggris. Selain itu, kamu harus bisa membaca pertanyaan, mendengarkan, dan menulis jawaban secara bersamaan, yang membutuhkan multitasking.
Jika kamu lebih familiar dengan aksen Amerika dan memiliki kemampuan mencatat yang baik, TOEFL bisa jadi pilihan. Sebaliknya, jika kamu lebih percaya diri mendengarkan berbagai aksen dan lebih suka melihat pertanyaan terlebih dahulu, IELTS menawarkan keuntungan strategis.
Sesi 3: Speaking (Berbicara)
Ini adalah sesi dengan perbedaan paling mencolok dan sering menjadi penentu utama bagi banyak orang.
Speaking TOEFL iBT
- Format: Kamu akan berbicara melalui mikrofon ke komputer. Jawabanmu akan direkam dan dinilai oleh kombinasi penilai manusia dan sistem AI.
- Struktur: Terdiri dari 4 tugas. Satu tugas adalah pertanyaan independen tentang pendapat atau pengalaman pribadimu. Tiga tugas lainnya adalah tugas terintegrasi, di mana kamu harus membaca teks singkat, mendengarkan rekaman, lalu merangkum dan menghubungkan informasi dari keduanya dalam jawaban lisanmu.
- Tantangan: Berbicara ke mesin bisa terasa canggung dan tidak alami bagi sebagian orang. Tidak ada interaksi atau isyarat non-verbal dari lawan bicara. Selain itu, tugas terintegrasi menuntut kemampuan berpikir cepat, sintesis informasi, dan penyampaian yang terstruktur dalam waktu yang sangat singkat (persiapan 15-30 detik, bicara 45-60 detik).
Speaking IELTS Academic
- Format: Kamu akan melakukan wawancara langsung, tatap muka dengan seorang penguji (examiner) bersertifikat.
- Struktur: Terdiri dari 3 bagian. Bagian pertama adalah perkenalan dan pertanyaan umum tentang dirimu. Bagian kedua, kamu diberi kartu topik dan waktu 1 menit untuk persiapan sebelum berbicara selama 1-2 menit. Bagian ketiga adalah diskusi dua arah yang lebih mendalam terkait topik di bagian kedua.
- Tantangan: Bagi sebagian orang, berbicara langsung dengan orang asing bisa menimbulkan kegugupan. Kamu harus mampu berinteraksi secara alami dan spontan. Namun, format ini memungkinkan adanya klarifikasi jika kamu tidak mengerti pertanyaan, dan interaksi terasa lebih manusiawi.
Jika kamu adalah tipe orang yang lebih nyaman berbicara secara terstruktur tanpa interupsi dan tidak masalah berbicara ke mesin, TOEFL bisa menjadi pilihan yang aman. Namun, jika kamu lebih suka interaksi manusiawi dan merasa lebih alami dalam format percakapan, IELTS akan terasa jauh lebih nyaman.
Sesi 4: Writing (Menulis)
Kemampuan mengetik dan menyusun argumen menjadi fokus utama di sesi terakhir ini.
Writing TOEFL iBT
- Format: Mengetik di komputer.
- Struktur: Terdiri dari 2 tugas.
- Integrated Writing (20 menit): Kamu membaca sebuah teks akademik, kemudian mendengarkan sebuah kuliah yang membahas topik yang sama (biasanya dari sudut pandang yang berlawanan). Tugasmu adalah merangkum poin-poin dari kuliah dan menjelaskan bagaimana poin-poin tersebut berhubungan dengan bacaan.
- Writing for an Academic Discussion (10 menit): Kamu akan membaca sebuah pertanyaan dari profesor dan dua respons dari mahasiswa lain. Tugasmu adalah menuliskan opinimu sendiri dalam forum diskusi online tersebut.
- Tantangan: Kecepatan mengetik sangat berpengaruh. Tugas terintegrasi menguji kemampuanmu untuk membandingkan dan mempertentangkan informasi dari sumber yang berbeda secara akurat.
Writing IELTS Academic
- Format: Menulis dengan tangan (untuk paper-based) atau mengetik (untuk computer-delivered).
- Struktur: Terdiri dari 2 tugas.
- Task 1 (20 menit, min. 150 kata): Kamu akan disajikan sebuah data visual (grafik, tabel, diagram, atau peta). Tugasmu adalah mendeskripsikan, merangkum, atau menjelaskan informasi tersebut dengan kata-katamu sendiri. Tidak ada opini pribadi.
- Task 2 (40 menit, min. 250 kata): Kamu harus menulis esai sebagai respons terhadap sebuah sudut pandang, argumen, atau masalah. Kamu mungkin diminta untuk memberikan pendapat, membahas dua sisi, atau menjelaskan penyebab dan solusi.
- Tantangan: Jika memilih tes berbasis kertas, tulisan tangan harus jelas dan mudah dibaca. Task 1 menuntut kemampuan analisis data dan pelaporan yang objektif, sementara Task 2 menguji kemampuanmu membangun argumen yang koheren dan terstruktur.
Jika kamu adalah seorang pemikir kritis yang cepat dalam mensintesis informasi dari berbagai sumber dan memiliki kecepatan mengetik yang baik, TOEFL sangat cocok. Jika kamu lebih kuat dalam analisis data visual dan penulisan esai argumentatif klasik, IELTS mungkin lebih sesuai dengan keahlianmu.
Perbandingan Skor TOEFL vs IELTS
Memahami sistem penilaian adalah hal penting. Kedua tes menggunakan skala skor yang berbeda, namun banyak institusi menyediakan tabel konversi untuk membandingkan keduanya.
- Skor TOEFL iBT: Dinilai per sesi (Reading, Listening, Speaking, Writing) dengan rentang 0-30. Skor total adalah penjumlahan dari keempat sesi, sehingga rentang skor totalnya adalah 0-120.
- Skor IELTS Academic: Dinilai per sesi dengan skala 0-9 (disebut band score). Skor keseluruhan (overall band score) adalah rata-rata dari keempat sesi, juga dalam rentang 0-9.
Tidak ada konversi resmi yang mutlak, namun ETS dan penyelenggara IELTS telah merilis data perbandingan yang bisa dijadikan acuan.
| Skor IELTS | Perkiraan Skor TOEFL iBT | Tingkat Kemahiran |
|---|---|---|
| 9.0 | 118-120 | Expert User |
| 8.5 | 115-117 | Very Good User |
| 8.0 | 110-114 | Very Good User |
| 7.5 | 102-109 | Good User |
| 7.0 | 94-101 | Good User |
| 6.5 | 79-93 | Competent User |
| 6.0 | 60-78 | Competent User |
| 5.5 | 46-59 | Modest User |
Selalu periksa persyaratan spesifik dari universitas atau institusi tujuanmu. Beberapa program mungkin mensyaratkan skor minimum tidak hanya secara total, tetapi juga per sesi.
TOEFL atau IELTS untuk Beasiswa dan Tujuan Spesifik
Pilihan antara TOEFL dan IELTS juga seringkali bergantung pada tujuan akhirmu.
Studi di Luar Negeri
- Amerika Serikat dan Kanada: Secara tradisional, universitas di AS lebih familiar dengan sertifikat TOEFL. Hampir semua institusi di sana menerimanya. Namun, saat ini lebih dari 3.400 institusi di AS juga sudah menerima IELTS. Jika tujuan utamamu adalah AS, TOEFL seringkali menjadi pilihan yang lebih “aman” dan umum.
- Inggris, Australia, dan Selandia Baru: Negara-negara ini cenderung lebih menyukai IELTS. IELTS adalah syarat wajib untuk visa pelajar dan imigrasi ke Inggris (IELTS for UKVI). Hampir semua universitas di negara-negara ini menerima IELTS, dan beberapa bahkan lebih memilihnya.
- Eropa dan Asia: Sebagian besar universitas di negara-negara non-penutur asli bahasa Inggris menerima kedua tes ini secara setara. Cek kembali situs web universitas tujuanmu adalah langkah yang paling bijaksana.
Beasiswa
- Beasiswa LPDP: Salah satu beasiswa paling populer di Indonesia, LPDP, menerima TOEFL iBT dan IELTS. Persyaratan skor minimumnya bisa bervariasi tergantung program dan universitas tujuan, jadi pastikan kamu memeriksa panduan terbaru.
- Beasiswa Australia Awards (AAS): Beasiswa ini secara spesifik mensyaratkan IELTS.
- Beasiswa Fulbright (AS): Beasiswa ini umumnya mensyaratkan TOEFL.
- Beasiswa Chevening (Inggris): Menerima berbagai jenis tes bahasa Inggris, termasuk IELTS.
Kesimpulannya, untuk urusan beasiswa, pertimbangkan negara tujuan beasiswa tersebut. Jawaban dari pertanyaan toefl atau ielts untuk beasiswa sangat bergantung pada kebijakan masing-masing penyelenggara.
Karir dan Imigrasi
Untuk tujuan profesional, IELTS General Training seringkali lebih relevan daripada IELTS Academic atau TOEFL. Namun, untuk profesi yang memerlukan lisensi di negara berbahasa Inggris (seperti dokter atau perawat), TOEFL atau IELTS Academic biasanya tetap disyaratkan. Untuk tujuan imigrasi ke negara seperti Kanada, Australia, dan Inggris, IELTS adalah standar emasnya.
Biaya TOEFL dan IELTS di Indonesia
Faktor biaya tentu menjadi pertimbangan penting. Biaya TOEFL dan IELTS bisa berfluktuasi tergantung pada kurs dolar dan kebijakan pusat tes.
- Biaya TOEFL iBT: Per tahun 2024-2025, biayanya berkisar di angka USD 205 atau sekitar Rp 3.300.000,-.
- Biaya IELTS: Biayanya sedikit lebih bervariasi tergantung lokasi dan jenis tes (paper/computer), namun umumnya berada di kisaran Rp 3.000.000,- hingga Rp 3.500.000,-.
Meskipun terlihat mirip, pastikan kamu memeriksa harga terbaru di situs resmi atau pusat tes terdekat di kotamu sebelum mendaftar. Biaya ini belum termasuk ongkos persiapan, seperti kursus atau buku.
Persiapan TOEFL IELTS adalah Kunci Kesuksesan
Apapun tes yang kamu pilih, persiapan yang matang adalah segalanya. Persiapan TOEFL IELTS bukan hanya tentang belajar bahasa Inggris, tapi tentang memahami format dan strategi tes.
- Lakukan Tes Diagnostik: Sebelum memutuskan, cobalah kerjakan contoh soal dari kedua tes. Banyak sumber online menyediakan tes simulasi gratis. Rasakan sendiri format soalnya dan lihat mana yang terasa lebih “klik” untukmu.
- Fokus pada Kelemahan: Setelah memilih, identifikasi sesi mana yang menjadi tantangan terbesarmu. Alokasikan waktu belajar lebih banyak untuk sesi tersebut.
- Perbanyak Latihan: Practice makes perfect. Kerjakan latihan soal sebanyak mungkin dalam kondisi waktu yang sebenarnya. Ini akan membantumu membangun kecepatan, akurasi, dan stamina.
- Tingkatkan Kosakata Akademik: Baik TOEFL maupun IELTS Academic sangat bergantung pada pemahaman kosakata level tinggi. Bacalah jurnal, artikel berita internasional, dan tontonlah dokumenter untuk memperkaya perbendaharaan katamu.
- Ikuti Kursus Persiapan: Mengikuti kursus persiapan di lembaga terpercaya seperti One Stop English Education bisa memberikan keuntungan besar. Kamu akan dibimbing oleh instruktur berpengalaman yang memahami seluk-beluk tes, mendapatkan materi terstruktur, serta tips dan trik yang tidak akan kamu temukan jika belajar sendiri.
Kesimpulan
Setelah membedah semua aspek, jawaban dari pertanyaan “mending TOEFL atau IELTS?” adalah tidak ada jawaban tunggal yang berlaku untuk semua orang. Pilihan terbaik sangat bergantung pada empat faktor utama:
- Tujuanmu: Periksa persyaratan institusi, negara, atau program beasiswa yang kamu tuju. Ini adalah filter pertama dan terpenting.
- Kekuatan dan Kelemahanmu: Apakah kamu lebih nyaman berbicara dengan manusia atau mesin? Apakah kamu lebih baik dalam menangani soal pilihan ganda atau variasi soal yang beragam? Jujurlah pada dirimu sendiri.
- Keterampilanmu: Coba kerjakan contoh soal dari kedua tes. Pengalaman langsung ini akan memberimu intuisi terbaik tentang tes mana yang lebih cocok dengan caramu berpikir dan bekerja.
- Aksen: Seberapa nyaman kamu dengan aksen Inggris Amerika versus aksen internasional (British, Australia)? Ini sangat mempengaruhi sesi Listening.
Pada akhirnya, baik TOEFL maupun IELTS adalah alat ukur yang valid untuk kemampuan bahasa Inggrismu. Keduanya sama-sama menantang dan membutuhkan persiapan yang serius. Jangan memilih berdasarkan mitos “mana yang lebih mudah”, tetapi pilihlah berdasarkan analisis strategis tentang mana yang paling sesuai dengan profil dan tujuanmu. Dengan keputusan yang tepat dan persiapan yang matang, kamu akan selangkah lebih dekat untuk meraih impian akademis dan karir globalmu.






